Selasa, Maret 24, 2009

Menjawab Keraguan Orang Kristen

Memilih Bagi Orang Kristen, Hak atau Kewajiban?
oleh Fasaoga
Banyak diantara kalangan jemaat digereja, persekutuan, dan komunitas kristen memperdebatkan apakah orang kristen boleh terlibat atau tidak dalam politik? Apakah memilih itu hak atau kewajiban? Ada banyak argumen yang dilontarkan oleh jemat untuk menjawab pertanyaan ini, baik yang setuju ataupun tidak setuju dan yang menyatakan hak atau kewajiban. Tetapi ada hal yang perlu dipahami orang kristen yaitu keberadaan kita dan hakekat politik tersebut. Sebagai manusia ciptaan Tuhan, kita diberi tugas dan tanggung jawab Sang Pencipta. Yesus berkata: “kamu adalah garam dunia” (Matius, 5:13). Ini artinya diberiNYA tugas dan tanggung jawab menggarami dunia. Sifat garam adalah asin. Tidak jarang garam digunakan sehari-hari dalam makanan karena kemampuan pengaruhnya mengubah cita rasa. Proses pelarutan garam tidak tampak oleh kita, tapi pengaruhnya sangat terasa. Kalau kita memaknai dalam kehidupan perpolitikan bahkan aspek lainnya seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya berarti orang kristen mempunyai peranan, tugas,dan tanggung jawab yang sangat besar “sebagai garam”. Berperan sebagai garam, orang kristen tidak perlu melihat “kuantitas (jumlah)”, melainkan pada “kualitas iman, kasih, karakter, dan intelektual”. Kualitas itulah yang harus mempengaruhi kondisi bangsa. Hendaknya orang kristen tidak kehilangan visi dan misi kristiani atau tenggelam dalam pergolakkan politik (dunia). Orang kristen harus memiliki dan mempertahankan sikap positif, konstruktif, dinamis, dan kritis terhadap masalah bangsa. Politik janganlah dipandang sebagai sesuatu yang tabu atau kotor, najis. Sebab politik pada dasarnya bermakna “menata”; “mengatur” dan memiliki tujuan “untuk menyejahterakan rakyat”. Memang praktik perpolitikkan saat ini telah kehilangan makna dan tujuannya. Akan tetapi, itu terjadi karena orang didalamnya (politikus) memiliki hati dan pikiran yang jahat (kotor) terhadap politik itu sendiri. Jadi bukan politiknya yang kotor. Ibarat mobil yang dibawa oleh orang mabuk, maka jalan mobilnya juga seperti orang mabuk. Jadi pengembalian makna dan tujuan politik sangat tergantung pada orang yang terlibat didalamnya (politisi itu sendiri).
Hubungannya dengan pemilu adalah hak kita dalam menentukan wakil atau pemimpin kita yang akan membawa kita pada kehidupan yang “tertata”, “teratur” (kedamaian) dan “kesejahteraan”. Sebagai warga bangsa Indonesia, kita punya “hak” dalam memilih bukan suatu kewajiban. Kita boleh memilih ataupun tidak. Namun perlu kita ingat, bahwa keberadaan kita sebagai umat kristiani dibumi Indonesia merupakan “anugerah Allah”, termasuk hak-hak kita. Sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus: “tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.....”(Ikorintus, 15:10). Kita bertanggung jawab kepada Tuhan untuk menggunakan berkat yang dikaruniakanNYA pada kita, termasuk sebagai warga Indonesia. DIA menempatkan kita disini karena Tuhan punya maksud dan rencana yang indah dengan memberikan kita tanggung jawab sebagai garam. Jadi persoalannya bukan pada boleh atau tidak menggunakan hak pilih kita, tetapi tanggung jawab kita sebagai garam tadi. Kita memilih salah satu wakil kita atas dasar “tanggung jawab secara vertikal kepada Tuhan” dan secara horizontal kepada negara (warga)”. Sikap golput (tidak memilih) adalah sikap yang tidak bijaksana dan tidak bertanggung jawab. Anda memilih atau tidak, semua rakyat akan diwakili atau dipimpin oleh mereka yang dipilih rakyat banyak.
Sebagai refleksi bagi kita, sikap skeptis, apatis, pesimis harus disingkirkan, dan diubah menjadi sikap positif, optimis, konstruktif, dinamis, dan kritis terhadap masalah bangsa. Politik adalah suatu bidang pelayanan yang seharusnya ditunjukkan kasih Allah itu. KasihNYA nyata dalam upaya setiap warga mengusahakan kesejahteraan umum. Ini suatu tanggung jawab kita dari Tuhan sebagaimana yang dinyatakanNYA kepada nabi Yeremia (29:7): “usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Allah buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Yesus adalah teladan kita dalam menyatakan keberpihakkanNYA terhadap kaum yang kecil, lemah, miskin, dan terpinggirkan. Mari kita mengikuti dan meneladani kepemimpinan Tuhan Yesus.

MENDAPATAKAN PEMEIMPIN YANG DAPAT DIANDALKAN

Pemilu 2009: Momen Rakyat Memilih Pemimpin Berkualitas
Oleh Fasaoga Zebua

Pada tahun 2009 ini, rakyat Indonesia akan melakukan pesta terbesar yakni Pemilihan Umum. Waktunya bagi rakyat untuk memilih siapa wakil atau pemimpin mereka. Namun disisi lain juga ada rakyat baik secara individu maupun kelompok (komunitas) bersikap apatis, skeptis dan pesimis terhadap pemilu karena berbagai faktor. Mereka beranggapan bahwa pemilu hanyalah alat bagi para politisi untuk merebut suara rakyat demi kekuasaan (kepentingannya). Ini sungguh suatu peristiwa yang tragis memang, ditengah banyak dan kuatnya suara rakyat yang menjerit karena kesejahteraannya terabaikan, para wakil atau pemimpinnya bersikap arogan, egois, dan hidup bersenang-senang menggunakan uang rakyat. Tapi tidak dapat kita pungkiri juga bahwa dibangsa ini masih terdapat orang yang dapat diandalkan (memiliki visi, kemampuan, berintegritas, dan kasih akan bangsanya). Diantara sekian banyak calon wakil (pemimpin) rakyat (calon legislatif) yang tersebar dalam sejumlah partai politik, pastilah ada yang dapat diandalkan atau setidaknya mendekati harapan rakyat. Dengan kata lain setidak-tidaknya ada yang lebih baik diantara yang kurang baik itu. Skeptisme dan apatisme barangkali harus disingkirkan dalam diri pemilih, dan diubah menjadi sikap optimis dan peduli yang disertai dengan pemikiran akal sehat (rasional). Pergunakanlah hak pilih anda dengan penuh tanggung jawab sehingga anda tidak terbuai dan termakan ole janji-janji palsu mereka saat kampanye. Karena saat kampanye para calaon wakil rakyat melakukan “pencitraan diri” sebagai sosok yang paling layak dipilih, seolah mereka yang paling mampu mengatasi permaslahan bangsa.
Di era demokrasi seperti saat ini, hal itu sah-sah saja dilakukan mereka. Dan rakyat juga memliki hak dan kebebasan untuk menentukan pilihannya. Rakyat adalah faktor penentu apakah mereka layak untuk mewakili rakyat. Bagaimanakah rakyat membuat pilihannya secara tepat? Caranya cukup mudah, dibutuhkan kepedulian mencermati rekam jejaknya, analisis informasinnya, kemudian buatlah keputusan yang tepat. Mencermati rekam jejak politisi (partai), apakah perkataan dan perbuatan mereka konsisten? Mempertimbangkan rekam jejak calon legislatif sebelum atau selama mengemban jabatan publik, kelakuannya saat kampanye (politik kotor/uang), partisipasinya dalam meloloskan praktik KKN, dan kepeduliannya terhadap publik (rakyat). Dalam memilih, rakyat hendaknya memilih atas dasar “kualitas” seorang figur calon. Jangan memilih karena figur calon tersebut “mewakili kuantitas”. Apalagi hanya karena hubungan/kesamaan suku, ras, agama dan bahkan semata-mata karena materi (politik uang). Memilih cara demikian berarti sama halnya dengan kita membeli kucing dalam karung yang tidak kita ketahui bagaimana ‘bobot-bebet-bibitnya’. Hal ini mestinya dihindari karena akan mereduksi semangat kebangsaan. Bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berorientasi kebangsaan. Pemilih jangan sampai dijebak dalam kepentingan SARA (suku, agama, ras dn antar golongan) yang mungkin akan dijadikan isu oleh para calon untuk meningkatkan popularitas mereka. Seperti yang terjadi belakangan ini, agama dipropagandakan mampu mengatasi masalah bangsa. Tapi sungguh ironis, masalah sosial semakin meningkat dan sebagian disebabkan oleh fanatisme terhadap agama tertentu. Hendaknya agama jangan dijadikan sesuatu hal yang “disucikan melebihi manusia”. Mengapa demikian? Alasannya sederhana, karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia dari ciptaan lainnya, tapi “agama merupakan ciptaan manusia”. Jadi jikalau manusia yang beragama itu tidak suci (tidak mencerminkan buah-buah ajaran agamanya dengan benar) berarti agamanya itu telah ternodai. Ingat, hanya satu yang paling suci yaitu Allah. Dan seharusnya kesucian (kemurnian, ketulusan, dan keikhlasan) dari para calon wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat yang menjadi perhatian utama kita, bukan pada keindahan pencitraan diri yang mereka lakukan.

Mencari Pemimpin Bangsa

PEMIMPIN YANG DIDAMBAKAN RAKYAT
Oleh Fasaoga Zeb

Salah satu kebutuhan yang terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita (Indonesia) saat ini adalah kurangnya pemimpin yang dapat diandalkan oleh rakyatnya. Krisis kepemimpinan dibangsa ini sangatlah mempengaruhi ketidakjelasan arah dan tujuan bangsa ditengah-tengah krisis multi dimensional yang berkepanjangan yang melanda negeri Indonesia. Dalam ukuran tertentu hal ini juga merupakan cerminan dari keadaan gereja-geraja kita. Banyak anggota jemaat yang menjerit: ”berikan pada kami pemimpin yang dapat diandalkan”. Rakyat (jemaat) membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki ‘visi, kemampuan, beritegritas, dan kasih akan bengsanya’. Harapan rakyat ini akan terus berhembus selama mereka dan harapan mereka belum terwujud dalam kehidupan yang ada “kedamaian dan kesejahteraan”. Disini muncul pertanyaan: kapankah impian mereka terwujud? Siapakah yang mewujudkan impian mereka? Dan bagaimana impian mereka itu bisa terwujud sebagaimana yang mereka harapkan? Sungguh ini suatu persoalan yang sulit untuk dipecahkan dengan mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi setidaknya kita dapat mempergunkan kemampuan atau kepekaan kita melihat dan mengenal siapa kita dan siapa didepan (pemimpin) kita. Hal ini dibutuhkan karena kedalaman dan jauh pandang kita melihat dn mengenal keberadaan kita sangat menentukan arah dan sampai dimana yang akan kita tuju (kita dibawa). Oleh sebab itu, kesesuaian antara harapan rakyat dengan kemampuan pembawa harapan itu sangatlah mutlak terjadi, jika tidak krisis multidimensional akan terus melanda negeri.

Minggu, Maret 15, 2009

Kesaksian seorang Anak Desa

Bertahan Ditengah Tantangan Untuk Bersaksi
oleh Fasaoga


Saya punya kesakasian dalam menjalani studi saya, awalnya saya tidak pernah menduga bisa kuliah, karena dilihat dari kemampuan orangtua sangat kekurangan,bahkan untuk makan sajapun terancam. Dan begitu juga dengan masalah kemapuan saya secara individu, saya hanyalah orang kampung yanmg mencoba mnegadu nasib diKota Medan, bahkan ketika saya baru sampai diMedan dan mnedengar keadaan siswa-siswa diMedan cukup pintar-pintar, sementara saya tidak punya apa-apa,yah namanya juga dikampung tidak berwawasan luas. Dan hal ini benar terjadi dengan saya, ketika semester I, saya masuk nominasi siswa terbodoh disekolah saya yang masih jauh tertinggal prestasinya/teksas kata orang dibanding sekolah-sekolah lainnya. Akhirnyapun saya kecawa. Dan dalam keadaan demikialah saya, merasakan hadirat Tuhan, setelah beberapa lama,saya seolah diberikan harapan bahwa saya akan bisa menjadi nominasi terbaik disekolah kelak, sebab TUHAN itu kan pengasih, jika kita meminta kepadanya dan berusaha/mengembangkan karunia yang kecil yang telah diberikanNYA pada kita, pasti DIA akan memberkatinya sehingga kelak bisa menjadi besar. Setelah saya renug-renungkan, benar juga. Sampai pada suatu saat saya mencoba buka-buka Alkitab, dan disitu saya menemukan ayat yang mengatakan "Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. ; .............setialah pada perkara-perkara yang kecil...........". dan masih ada lagi ayat-ayat yang membuat saya, semakin yakin dengan harapan tadi, bahwa TUHAN bisa berbuat jauh lebih baik,lebih besar dari apa yang kita pikirkan. Dan sejak itu pun saya selalu berharap pada TUHAN, sebagaimana pesan orang tua saya ketika berangkat dari Nias.
Nah, apa yang menjadi buah dari keyakinan saya tadi, benar-benar Tuhan nyatakan pada diri saya. Meskipun agak lama,ya tapi saya merasakan berkaqt Tuhan itu tepatnya ketika saya kelas 3 SMU, saya benar masuk nominasi terbaik 2 kali berturut-turut disekolah saya.
Dan yang cukup membuat saya semakin kagum akan kuasa TUHAN, ketika saya telah tamat SMU. Saya awalnya tidak berencana untuk kuliah karena keadaan yang serba kekurangan. Tapi hal ini tidak serta merta demikian. Seperti hal dengan keadaan diawal tadi, saya kembali diberi harapan, keyakinan untuk kuliah. Saya pun mencoba untuk mendiskusikannya hal ini kepada abang saya yang selama ini membantu saya,dan dia menjawab,dia tidak lagi untuk itu. Tapi keyakinan itu semakin muncul,dan saya coba bercerita kepada teman-teman saya, namun apa yang mereka katakan tidaklah menjadi pendorong,justru melemahkan, mereka berakata pada saya, sudahlah cari kerja aja dulu, lagian mana mungkin kamu bisa ikut SPMB, untuk uang beli formulir saja tidak ada dan lagian kalaupun kamu bisa mendaftar apa mungkin kamu bisa lulus, ingat sainganmu sudah mengikitu kursus selama 1 tahun ini untuk persiapan SPMB, sementara kamu cuma mengandalkan belajar sendiri,apa kamu yakin?
Sepintas apa yang mereka katakan itu juga ada benaranya, karena memang saya tidak ada persiapan apapun untuk ikut SPMB, apalagi kuliah. Walaupun demikian, harapan dan keyakinan tadi tetap ada, dan pada akhirnya saya sharing dengan salah satu guru saya meminta pencerahan. Yah hasilnya apa yang dia sampaikan cukup baik. Dia menyatakan "kalau memang kamu yakin, silakan coba,Tuhan pasti tunjukkan jalan, jikalau hal itu adalah kehendakNYA". Seperti yang dikatakan guru saya, akhirnya saya pun dibukan jalan oleh TUHAN untuk membeli formulir, walaupun saya baru membelinya tepat pada wkatu-waktu terakhir penjualan formulir SPMB,tapi selalu bersyukur bahwa kasih TUHAN selalu indah pada waktunya. Menunggu saat-saat ujian semakin dekat,Kecaemasanpun muncul lagi, apa mungkin saya mampu bersaing dengan teman untuk lulus masuk PERGURUAN TINGGI NEGERI?
Sayapun hanya selalu ingat apa yang dikatakan oleh guru saya, jikalau memang kehendak TUHAN, pasti dibukanNYA jalan, dan saya pun berserah pada TUHAN, sembari belajar. Dan akhinya, memang benar TUHAN itu sangat baik,peduli,DIA lebih dulu mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita, sebelum kita membutuhkannya,dan kebutuhan akan diberikannya ketika kita memintanya dan pada waktunya. TUHAN telah menganugerahkan pada saya sebuah kelulusan dalam SPMB untuk masuk perguruan tinggi negeri dengan segala jalan yang Dia bukakan diluar daripada perkiraan saya,teman-teman saya sampai saat saya menjalani perkuliahan hingga sekarang ini.
Kepada seluruh jemaat Geraja AMIN dimanapun berada, Yakinlah bahwa TUHAN kita itu baik, jauh setia kepada kita daripada kesetaiaan kita kepadaNYA. Tuhan bisa melakukan segala sesuatu bagi kit jika kita mau "taat, setia, memuliakan DIA dalam segala aspek kehidupan kita, serta berserah kepadaNYA dalam segala keadaan suka mapun duka". oleh Phasa Zebua

Masalah Kunjungan ke Nias

PETUGAS PELABUHAN MAIN MATA
Y. Zebua

Adalah sudah menjadi rahasia umum diIndonesia setiap kali ada kecelakaan transportasi, para pihak-pihak yang terkait selalu mencari alasan pembenaran diri. Salah satu contoh baru-baru ini telah terjadi musibah tenggelamnya kapal motor didaerah perairan Sulawesi yang telah menelan korban ratusan jiwa. Betapa tidak berharaganya jiwa seorang manusia dinegeri ini. Ketika masyarakat, media menanyakan kepada pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam musibah in,jawaban yang santer kita dengar adalah faktor alam/cuaca yang tidak bagus. Apakah iya dizaman modern yang serba canggih sekarang ini faktor cuaca tidak dapat mendekteksi hal tersebut atau jika memang tidak ada alat pendeteksinya, setidaknya bisa belajar dari pengalaman kecelakaan yang banyak menimpa transportasi kita belakangan ini? Ataukah hal itu diabaikan demi keuntungan dalam bisnis pelayaran? Sungguh ironis, bangsa yang memiliki maritim yang sangat luas ini, tidak mampu mengadakan peralatan canggih untuk mendeteksi keadaan alam. Sudah saatnya para pihak yang terkait memikirkan perbaikan transportasi kita yang sangat amburadul ini.
Namun masalahnya bukan hanya itu saja, faktor dari manusia itu sendiri juga perlu diberi perhatian lebih. Secanggih apapun teknologi yang digunakan, namun jika manusianya tidak memiliki etika baik, tidak akan ada artinya karena manusia itu yang menjadi faktor utamanya dalam pengelolaan alat-alat tersebut. Artinya jikapun peralatan canggih telah diadakan namun manusia sengaja melalaikan tugas dan tanggung jawabnya, maka usaha yang dilakukan akan menjadi sia-sia saja. Sebagai contoh , beberapa waktu yang lalu saya punya pengalaman saat berkunjung ke Pulau Nias bulan Desember 2008 lalau. Saya memulai perjalanan dengan naik angkutan (taxi) dari Medan menuju pelabuhan SIBOLGA. Sesampainya disana saya langsung ke Loket penjualan tiket kapal motor penumpang menuju Nias. Begitu loket dibuka langsung diserbu calon penumpang yang membeli tiket kapal. Begitu terkejutnya saya dalam sejenak petugas loket mengatakan tiket sudah habis. Menurut pengamatan saya, saat itu yang sudah dapat tiket masih sekitar puluhan orang, padahal daya tampung kapal tersebut sekitar 200 orang. Saya pun mencoba cari tahu, dan ternyata dari informan yang saya dapat, tiket cepat habis karena sudah ada orang dalam yang menjual tiket itu kepada para calo. Rasa penasaran saya pun semakin tinggi. Akhirnya saya mencoba mencari orang yang jual tiket diluar. Dan memang benar calo-calo itu meiliki 5-10 tiket, dengan nama yang asal dibuat dan harga satu tiket juga naik antara 200-300% dari harga yang sebenanya. Yang lebih mengherankan lagi, orang yang tidak punya tiket dapat naik kapal tanpa tiket dan jaminan, cukup bayar kepada petugas saja. Penasaran dengan hal itu, saya juga dalam keadaan terdesak, mencoba naik kapal dengan jalur tersebut, dan ternyata memang benar juga. Ketika dilakukan pengecekkan diatas kapal, saya aman-aman saja, tidak diperiksa. Setelah kapal berangkat, saya mencoba jalan-jalan diatas kapal, begitu kagetnya saya melihat penumpang yang harus duduk 5 orang diatas 1 kursi, ada yang duduk ditangga kapal bahkan ditempat pembuangan (maaf: pintu WC), ada juga yang duduk dipinggir-pinggir kapal tersebut yang sangat membahayakan jiwa mereka. Saya memperkirakan penumpang kapal tersebut leih dari tiga ratus orang, belum lagi truk beserta barang, mobil, sepeda motor. Selama perjalanan saya hanya berdoa dalam hati "semoga saja kami tidak terjadi apa-apa dengan keadaan kapal seperti ini".
Dan walaupun kami dapat sampai dipelabuhan Gunung Sitoli, namun hatiku begitu mencemaskan. Saya berharap ketika saya kembali dari Nias ( bulan Januari 2009) tidak mengalami hal ini lagi. Akan tetapi harapan itu tidak terwujud, hal yang serupa juga terjadi saat saya mencari tiket kapal menuju pelabuhan Sibolga. Bahkan keadaannya justru lebih buruk lagi. Waktu datang keloket untuk membeli tiket, petugasnya mengatakan tiket telah habis, jika bapak mau tiket, ada tapi harganya mahal (200% dari harga sebenarnya) dan tiketnya diambil diatas kapal nanti. Karena saya juga sudah lelah mencari dan tiket tergesa-gesa pulang, sayapun menyetujui tawaran itu dengan diantar oleh orang yang ditunujuk oleh petugas loket tersebut yang menurut saya orang kepercayaannya. Betapa menyedihkannya setelah saya dikapal saya tidak kunjung dikasih tiket dan juga tidak diperiksa tiket. Keadaan dikapal tidak jauh beda dengan keadaan saat saya berangkat, penumpang berdiri dan berdesak-desakkan seperti musibah pembagian zakat yang terjadi di Jawa Timur beberapa waktu lalu, ada yang duduk ditangga-tangga kapal, tidur dipinggir-pinggir kapal,dan dibagian-bagian kapal yang dapat digunakan untuk duduk, tidur tanpa memperhatikan itu tempat apa. Saya bersama seorang teman yang dijanjikan tiket sebelumnya mengmbil tempat didekat tempat kendaraan dengan beralaskan koran selama dalam perjalanan.
Begitulah gambaran transportasi laut kita sekarang ini, begitu memprihatinkan keadaannya. Saya dapat menyimpulkan kecelakaan bahwa musibah demi musibah yang menimpa transportasi kita beberapa tahun terkhir ini lebih disebabkan oleh kelalaian menjalankan tugas oleh pihak terkait dan petugas yang sengaja melalaikan peraturan demi mendapatkan keuntungan. Oleh karenanya peran serta masyarakat, media, LSM dan tindakan tegas pemerintah dalam menegakkan hukum sangat dibutuhkan.